Filsafat Penilaian:Pendidikan sebagai Proses Dinamis

Filsafat Penilaian:Pendidikan sebagai Proses Dinamis

dsc00032

Oleh Zainurrahman

Sebagai pendidik, kita selalu melakukan proses penilaian kepada siswa entah itu disebut asesmen atau evaluasi, tetapi yang jelas itu sangat berpengaruh pada proses belajar-mengajar dan penilaian kita. Keyakinan yang kita anuti mengenai penilaian adalah bahwasanya penilaian itu memberikan gradasi kepada siswa dengan simbol-simbol yang memiliki makna tertentu, yang disepakati dan besifat permanen (jika berada di ijazah). Bagaimanapun, simbol-simbol itu, entah huruf ataupun angka, sangat berpengaruh pada siswa baik secara positif (membangkitkan motivasi) maupun secara negatif (menghancurkan motivasi).

Sebenarnya, pengetahuan itu tidak dapat diukur atau digradasi secara absolut, karena yang namanya “proses mengetahui” itu senantiasa ongoing, maksudnya adalah seorang siswa mungkin detik ini tidak dapat menjawab satu soal, karena tidak memiliki ide apapun mengenai soal tersebut. Guru kemudian memberikan siswa itu grade “D”, yang dalam pandangan akademik perguruan tinggi “butuh perhatian khusus”, tetapi sayangnya, pemberian itu bersifat permanen. Satu jam setelah ujian atau pemberian grade itu, siswa tersebut akhirnya mengetahui jawaban soal tadi; entah dari majalah, koran, televisi, radio, teman atau apapun, yang intinya “pengetahuan anak itu sudah bertambah, lebih baik dari sebelumnya”.  Akan tetapi, akankah nilai D yang diberikan oleh guru tadi berubah? sayang sekali, mayoritas guru dan dosen terutama profesor kita yang menyebut diri mereka “Idealis” senantiasa berkata “Maaf, waktu ujian udah lewat” atau “Udah Terlambat” atau “Semester Depan Saja!” hanya demi menjaga reputasinya sebagai seorang idealis. Jika proses mengetahui adalah sebuah proses yang sifatnya dinamis, alamiah dan dapat berubah sewaktu-waktu, lalu mengapa proses penilaian senantiasa bersifat mutlak, statis? Berarti standar penilaian yang di-set adalah bukan sebagai barometer pengetahuan, tetapi sebagai sesuatu yang lain.

Seharusnya, proses penilaian itu juga bersifat dinamis, sedinamis proses mengetahui siswa, contohnya sebagai berikut:

Seorang mahasiswa, bernama Udin tengah menghadapi ujian english grammar yang diajarkan oleh Profesor Simon. Ada beberapa pertanyaan dalam ujian tersebut yang tidak dapat dijawab oleh Udin, karena istilah-istilah yang digunakan oleg Profesor yang “tidak proporsional”. Alhasil, Profesor Simon memberinya nilai E yang artinya Gagal.

Sepulangnya di rumah, Udin membuka kembali buku teks yang digunakan untuk kuliah tersebut dan membuka kamus untuk mencari pengertian istilah yang digunakan oleh profesor Simon. Segera dia mengetahui jawaban dari ujian tadi, kemudian dia menemui profesor Simon. Dalam hal ini, pengetahuan Udin sudah bertambah, berubah, akankah nilainya bisa berubah dan menjadi sepadan dengan pengetahuannya kini? Saya rasa prinsip penilaian yang anda yakini saat ini tidak akan memperolehkan hal itu, bukan?

Proses dan Prinsip ini sangat bertentangan dengan prinsip pendidikan sebagai sebuah proses peningkatan dan perkembangan individu. Setiap individu senantiasa berubah, berkembang ke suatu arah dan senantiasa bergerak. Tetapi sekali tertulis di ijazah nilai “D”, upaya individu untuk mendidik diri dan menggapai pengetahuan, tetap saja nilai “D” tetaplah “D”.

Kita perlu mempertimbangkan proses penilaian dinamik dan mulai menumbuhkan keberanian untuk menolak prinsip absolute grading atau penilaian absolut yang banyak memakan siswa dan mahasiswa itu. Satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan men-delay atau menunda pemberian nilai dan memberikan kesempatan “selama mungkin”, hingga siswa itu yang menyerah untuk mencari ilmu, barulah nilai itu diberikan. Standar tetap digunakan, tetapi prinsip dinamika pengetahuan juga tidak dapat diabaikan.

Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan, pengalaman dan sintesa antara keduanya. Bagaimanapun, itu semua terjadi secara simultan dan berkelanjutan, senantiasa berproses dan tak pernah berhenti. Penilaian yang adalah barometer pengetahuan seharusnya bersifat dinamis, karena nilai harus benar-benar merefleksikan pengetahuan yang berproses, bukan pengetahuan yang sementara namun berlaku untuk selamanya!!!!

———————————————————————————————————————————————-

Most needed Education Journals free for downloading

Adults Motivational Direction

Sign Meaning and Social Context

Communication Problem in Heterogeneous Class

The Basic Understanding of Qualitative Research

Learning Language through Task and Activity

Children Language Acquisition and Language Recognition

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s