Kritik Pragmatik

dsc00032Kritik Pragmatik

Zainurrahman*

Pendahuluan
Apakah yang dimaksud dengan Pragmatik? Pragmatik merupakan bagian dari ilmu bahasa (linguistic) yang mempelajari makna tuturan penutur (speaker’s meaning), makna yang berhubungan dengan konteks (contextual meaning), menelaah maksud penutur yang lebih banyak dari pada apa yang dituturkan oleh penutur (implicature), memahami manipulasi bahasa untuk kesopanan (politeness), memahami anggapan-anggapan dalam tuturan dan kalimat (pre-supposition and entailment), mengetahui bagaimana manusia bertindak dengan menggunakan medium bahasa (speech act) dan kesemuaannya itu bertumpu pada satu makna yang mungkin akan diragukan oleh para linguis dan pragmatisis, yaitu “ilmu yang mempelajari makna, menciptakan makna dan mengubah makna realitas yang terkandung tiap-tiap tuturan, tindakan dan peristiwa bahasa”.
Substansi dari Pragmatik adalah “makna bahasa”; bagaimana manusia menciptakan, mengubah dan menelaah sesuatu dan membuatnya menjadi bermakna. Kehadiran Pragmatik dianggap sebagai pelengkap dari elemen-elemen linguistik yang lain, yang dipandang masih belum sempurna, yaitu sintaks dan semantik. Sintak dan Semantik sama-sama merupakan ilmu konstruksi dan konkretisasi kalimat; dalam pandangan yang simpel bisa kita asumsikan bahwa ”makna kalimat ditentukan oleh struktur kalimat” dan secara paradoksal bisa juga diasumsikan bahwa “makna kalimat menentukan struktur kalimat”. Jika anda ingin menyampaikan bahwa anda sedang lapar dan ingin makan, secara sintaksis dan sematis anda harus merancang kalimat seperti ini “Saya lapar, saya ingin mencari makan”. Tetapi, dalam kenyataannya, kita tidak selalu menggunakan ekspresi yang sedemikian rupa, untuk menyatakan hal tersebut, bisa saja kita berkata “Waduh, dimana warung terdekat ya?”, atau “Udah jam makan siang nih”, atau dengan ekspresi lain. Ini memang menunjukkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) tidak terikat oleh strukturasi-strukturasi sintaktik dan Semantik. Jika ekspresi seperti “waduh, dimana warung terdekat” ini ditelaah secara sintaktik atau Semantik, kemungkinan besar akan terjadi miskonsepsi terhadap makna yang ingin disampaikan oleh penutur, oleh karena itu Pragmatik diperkenalkan dan dikembangkan pada masyarakat dunia oleh para pakar dari barat seperti Austin, Yan Huang, George Yule, dan sebagainya.
Ada pertanyaan yang tiba-tiba mencuat akhir-akhir ini, apakah Pragmatik sudah sangat sempurna? Karena dalam kajiannya, saya secara pribadi, menemukan beberapa kejanggalan di dalam literatur Pragmatik itu sendiri, misalnya buku Pragmatik karya George Yule, kemudian judul yang sama dengan penulis dan organisasi topik yang berbeda oleh Yan Huang, dan kemudian bukunya Jenny Thomas yang berjudul Meaning in Interaction. Beberapa kejanggalan itulah yang akan saya paparkan dalam tulisan kali ini, semoga anda tindak lanjuti kemudian hari. Beberapa persoalan di dalam kajian Pragmatik adalah berhubungan dengan penggunaan istilah, konsepsi dan percontohan yang tidak realistis, pengelompokan fungsi bahasa yang membuang-buang waktu dan beberapa persoalan kecil lainnya. Pentingnya hal ini dibicarakan adalah untuk membuka wacana baru, mengajak kita berpikir lebih kritis dan tentu saja menjaga kita dari kesesatan. Dalam tulisan ini, saya berlandaskan pengalaman berbahasa kita sehari-hari yang tentu saja tidak jauh berbeda. Saya berharap ada respon yang menarik dan konstruktif dari pembaca demi pengembangan pemikiran kita mengenai bagian hidup kita yang satu ini, yakni kesadaran berbahasa yang lebih baik.

Kata dan Rujukan (Deiksis, Referensi dan Inferensi)
Deiksis adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penunjukan”. Sehingga ungkapan yang menunjukan kepada suatu objek disebut dengan ungkapan deiksis (Yule, 1996). Misalnya kita menggunakan ungkapan yang mengandung kata “ini”, “itu”, “-mu”, “-ku”, “-nya”, “disini”, “disana”, “sekarang”, “tadi”, “kemudian”, maka ungkapan itu menjadi ungkapan deiksis. Deiksis, di dalam Pragmatik dibagi menjadi deiksis persona (jika merujuk pada kepunyaan atau kedirian), deiksis jarak/spasial (jika menunjukan jarak), deiksis waktu (jika ungkapan itu menggambarkan waktu atau tenses), deiksis tempat (jika ,merujuk pada suatu tempat) yang sebenarnya bisa saja dimerger menjadi satu dengan deiksis spasial. Adapun variabel-variabel yang bermain dalam deiksis adalah referensi dan inferensi. Referensi adalah rujukan yang dimaksud oleh penutur deiksis, sementara itu inferensi konsep yang kurang lebih harus sama dengan referensi tetapi ada dalam pikiran pendengar. Setiap kata atau ungkapan deiksis yang dituturkan itu merujuk pada objek atau pengertian tertentu (reference) dan pendengar harus memiliki pengetahuan mengenai apa yang dirujuk oleh tuturan itu (inference). Dalam upaya untuk mencerna referensi penutur, pendengar harus memperhatikan pilihan kata yang digunakan oleh penutur sekaligus mensingkronkan makna kata tersebut dengan gestur penutur (Huang, 2007). Misalnya penutur menggunakan deiksis spasial “itu” seraya menggunakan jari telunjuk, wajah, mata atau yang lain untuk membantu pendengar mengetahui referensi yang dimaksud. Akan tetapi, dapatkah itu terjadi jika ungkapan deiksis itu digunakan atau diproduksi lewat alat komunikasi tak langsung seperti telepon, surat, SMS, dan sebagainya? Huang (2007:134) menyebutkan bahwa gestur merupakan penggunaan dasar dan simbol seperti kata merupakan penggunaan yang lebih luas. Kedua (gestur dan simbol) memang saling membantu satu sama lain, agar ungkapan dapat dimengerti. Tetapi satu hal yang dilupakan oleh kedua pakar ini adalah kondisi skemata pendengar (addressee) yang juga bermain peran sangat penting dalam penelaahan inferensi. Skemata pendengar yang berasal dari pengalaman dialogis (pengalaman-pengalaman yang saling berhubungan)seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih penting daripada sekedar membahas bagaimana memproduksi ungkapan deiksis. Anda bisa saja mengatakan berulang-ulang “the goheba then flies crossing the mountain” kepada seorang teman Australia, tetapi jangan harap kata “goheba” itu memberikan sebuah arti kepada teman anda, hingga teman anda memahami bahwa “goheba” adalah “burung” berkat frase “flies crossing the mountain”. Teman anda pasti mempunyai pengalaman bahwa burung bisa terbang, tetapi pesawat juga bisa terbang. Bagaimana bisa dia menentukan bahwa “goheba” itu burung dan bukan pesawat?, disinilah teman anda membutuhkan pengalaman yang lebih dari sekedar mencerna kalimat-kalimat anda. Skemata pengetahuannya harus dibangun melalui pertanyaan “what do you mean with goheba?” disini jelas bahwa skemata pengetahuan pendengar berperan sangat penting dalam hal mencerna ungkapan deiksis. Buat apa ungkapan deiksis digunakan atau dirumuskan, jika tidak dijelaskan variabel-variabel penting yang bisa menjelaskan makna-makna ungkapan deiksis itu bisa dicerna?

Implikatur
Pada hakikatnya, implikatur adalah apa yang diciptakan oleh penutur untuk menyampaikan sebuah maksud kepada pendengar, agar kiranya makna atau pesan yang disampaikan itu jelas tanpa harus berpanjang-lebar dalam membuat ungkapan. Implikatur adalah upaya “pengkompresan makna” agar apa yang disampaikan tidak sepanjang atau sebanyak apa yang diungkapkan. Setiap orang berbicara dengan menggunakan implikatur. Dan implikatur menurut Yule (1996), Huang (2007)Thomas (1995) implikatur merupakan hak milik penutur, dan bukan pendengar. Sah saja, karena implikatur itu ada demi memuaskan harapan penutur agar dapat menyampaikan pesan, makna atau informasi yang tidak memakan banyak kata. Tetapi apakah benar bahwa setiap ungkapan yang kita sampaikan itu disertai maksud atau kesadaran untuk “mengkompres makna”? apakah kita benar-benar sadar bahwa “ah sebaiknya aku cuma menanyakan apakah ada uang, dari pada aku mengatakan bahwa aku tidak ada uang” untuk menyampaikan makna yang bisa memakan dua atau tiga kalimat? Saya rasa tidak selamanya seperti itu. Dalam kondisi formal, atau kondisi tertentu dimana kita dengan sengaja harus menciptakan implikatur, misalnya dalam sebuah perbincangan dengan calon menantu anda. Mau tidak mau anda harus merancang ungkapan anda agar secara tidak langsung menyampaikan maksud anda secara jelas dan sopan, dan ini merupakan “ungkapan terencana”. Mengapa tidak langsung? Karena ketidaklangsungan ini maka disebut implikatur. Yaitu ungkapan yang memiliki makna implisit, tersirat. Jika tersurat maka bukan implikatur lagi namanya. Selain ungkapan yang terencana tadi, kita tentu saja berbicara dengan orang-orang dengan menciptakan implikatur (demikian keyakinan pragmatics) padahal ungkapan-ungkapan itu bukan ungkapan terencana, tetapi ungkapan yang bersifat refleks, sudah menjadi kebiasaan dan sebagainya. Dan itu merupakan “ungkapan normal”. Jadi, semua ungkapan itu memiliki makna implicit, karena makna itu dibungkus oleh simbol-simbol. Tetapi tidak harus semuanya itu disadari sebagai implikatur, dan setiap orang akan menyangkal jika mereka berbicara dengan implikatur. Mereka juga akan menyangkal bahwa alasan mereka mereka berpendek kata untuk menciptakan implikatur. Justru itulah gaya bahasa normal manusia, yang tidak harus kita “bekukan” dalam sebuah formula, karena semuanya itu refleks dan fleksibel. Masyarakat pengguna bahasa hanya akan mengakui bahwa mereka “berimplikatur” jika mereka memang merencanakannya, degan kata lain, implikatur itu sebenarnya “ungkapan terencana”. Untuk memahami implikatur penutur, atau ungkapan terencana, maka pendengar harus memiliki inferensi yang sama, bersesuaaian dengan konteks, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada seperti makna intonasi, pilihan kata dan tentu saja ini menuntut pengetahuan dasar mengenai referensi yang mungkin dimaksud oleh penutur.

Presuposisi
Presuposisi atau pra-anggapan menurut para pragmatisian adalah milik penutur juga, dimana diberikan contoh sebagai berikut: “Jimmy lagi mencuci sepeda motornya”, pra-anggapan yang ada dalam kalimat ini sangat banyak, diantaranya adalah “Jimmy punya motor”, “Jimmy lagi mencuci sebuah motor”. Anehnya, Yule (1996), Huang (2007), Thomas (1995) sepakat bahwa pra-anggapan ini milik penutur, diciptakan oleh penutur. Padahal yang dimiliki oleh penutur (dan juga pendengar) adalh realitas dari kalimat tersebut, bukan pra-anggapan. Jika dia disebut pra-anggapan, maka sudah semestinya itu milik pendengar. Dalam mengungkapkan kalimat “Jimmy sedang mencuci motornya”, penutur ingin menyampaikan “aktivitas yang sedang dilakukan jimmy” dan bukan “apa yang jimmy miliki”. Pendengarlah yang beranggapan bahwa “jimmy punya motor”. Apa yang dilakukan oleh pendengar tanpa sadar adalah mengikutsertakan (secara otomatis) segenap realitas objektif mengenai jimmy, dan pendengarlah yang berperan dalam menghadirkan anggapan-anggapan awal sebagai serpihan-serpihan realitas objektif itu. Sehingga, menurut saya, adalah keliru mengatakan bahwa pra-anggapan atau presuposisi itu milik penutur. Yang cocok adalah pra-anggapan adalah milik pendengar.

Tindak Tutur
Tindak tutur, dalam bahasa Inggris disebut Speech Act. Saya meragukan penggunaan istilah speech act, karena menurut saya tidak sesuai. Wacana tindak tutur berorientasi pada “bagaimana orang menggunakan bahasa atau ungkapan tertentu untuk melakukan sesuatu”. Misalnya seorang pendeta yang menikahkan dua sejoli, hakim yang menjatuhkan hukuman dan para pengusir hantu (exorcist) yang sedang mengobati orang kesurupan setan. Jika memang orang melakukan sesuatu dengan menggunakan ungkapan, maka sebenarnya siapakah yang bertindak, orang atau ungkapan? Jika orang yang bertindak, maka istilahnya adalah “bertindak dengan tuturan” (acting by speech) dan jika ungkapan yang bertindak, maka istilahnya adalah “tindakan tuturan” (speech action). Hal berikut yang tidak dijelaskan dalam kajian tindak tutur ini (saya terpaksa masih menggunakan istilah ini) adalah “tuturan yang telah terinternalisasi” dalam kebiasaan bertutur seseorang. Hal ini bisa anda temui jika anda berteman atau berpacaran dengan seorang mahasiswa (i) psikologi. Kebanyakan tuturan mereka itu sudah terinternalisasi, karena mereka “terbiasa” menggunakan tuturan untuk menguji, menggali dan merefleksikan kepribadian seseorang. Meskipun demikian, seringkali terdapat inkonsistensi dalam tuturan-tuturan mereka, alhasil, sangat sulitlah berkomunikasi secara diharapkan dengan orang-orang yang ungkapan-ungkapan mereka adalah ungkapan yang terinternalisasi, yang menjadi bagian dari tuturan-tuturannya. Selama kurang lebih 4 tahun saya melakukan observasi terhadap seseorang (sebutlah Tita). Tita adalah seorang mahasiswi psikologi dalah satu universitas ternama di Indonesia. Tita tergolong orang yang sangat obsesius untuk meraih prestasi pengetahuan yang gemilang. Selama 4 tahun itu pula dalam tuturan-tuturannya, jarang sekali terdapat tuturan yang otentik. Yaitu tuturan yang memang berasal dari ide atau emosinya. Kadang tuturan otentik dapat saya temukan disaat yang bersangkutan sedang menangis, marah dan sebagainya. Akan tetapi dalam situasi normal, jangan harap saya mendapatkan tuturan otentiknya. Ataukah mungkin sangat sulit mendapatkan tuturan otentiknya. Celakanya, dia tidak dapat menyadari bahwa tuturannya itu tidak otentik. Dalam kaitannya dengan tindak tutur, jelas diketahui bahwa segala tuturan yang tidak otentik itu “dimaksudkan” untuk melakukan atau mencapai sesuatu yang biasanya dan bisanya dilakukan dengan sebuah tindakan konkret. Katakanlah menyakiti, menguji, menakuti, mengintimidasi, dan sebagainya. Tetapi masih menjadi pertanyaan, sebenarnya, siapakan yang melakukan tindakan-tindakan tersebut, apakah penutur ataukah tuturan. Suatu tindak tutur akan berhasil jika penutur (yang menciptakan tindak tutur) itu memenuhi persaratan konteks dan otoritas, demikian menurut Pragmatik. Tetapi, sebenarnya yang diharapkan dari tindak tutur adalah suatu efek. Dan meskipun suatu harapan yang sebenanya tidak tercapai, tetapi efek dari setiap tuturan itu selalu ada. Misalnya, Pragmatik memberikan contoh: seorang laki-laki tua mengatakan pada anak temannya “Dengan ini saya menikahkan engkau dengan anakku”. Jelas orang ini tidak memiliki otoritas untuk menikahkan anak orang lain dengan anaknya. Pragmatik percaya bahwa dalam hal ini, tindak tutur disebut “gagal”. Tetapi, jika dilihat respon yang mungkin terjadi, jika anak (pendengar tuturan itu) merontak atau memberikan respon yang lain, maka tuturan itu telah memberikan efek yang signifikan terhadap anak itu. Dan itu bisa disebut bahwa tuturan itu telah melakukan sesuatu terhadap anak itu, sehingga ada respon atau reaksi. Jika tindak tutur selalu dinilai sukses jika memenuhi harapan penutur, maka sesungguhnya itu bukan lagi tindak tutur. Karena baik memenuhi harapan penutur atau tidak, jika tuturan itu menghasilkan reaksi, tentu saja sudah ada aksi yang sebelumnya dilakukan oleh tuturan itu. Sehingga dengan demikian, tindak tutur yang menyebabkan reaksi atau respon selalu disebut berhasil.

Dari kritik diatas, jelaslah bahwa banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Pragmatik. Apakah itu dengan cara merevisinya menjadi neo-pragmatics atau dengan cara apapun, itu terserah. Tetapi sepanjang pertanyaan-pertanyaan fundamental diatas tidak dijawab, maka tetap saja Pragmatik masih dinilai belum sempurna di dalam pikiran saya. Kemudian, unsur penting dari bahasa yang hilang dari radar Pragmatik adalah hubungan-hubungan mendasar yang tak bisa diputuskan antara ide dan bahasa atau yang disebut Ideolonguistik. Hal ini seyogiyanya dipertanyakan lagi, bagaimana Pragmatik bisa menjelaskan hubungan antara Ide dan Bahasa. Pemikiran-pemikiran diatas orisinil merupakan keraguan yang muncul pada saya setelah membaca dan mendalami bahan-bahan Pragmatik. Ada kemungkinan bahwa saya lah yang keliru atau belum memahami Pragmatik ini, tetapi sejauh yang saya perbincangkan dengan beberapa rekan yang notabenenya adalah para Pragmatisian hasilnya masih nihil.

Bacaan:
Huang, Yan. 2007. Pragmatics. Oxford University Press
Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interaction. Longman. New York
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford University Press.

Untuk mendownload versi pdf klik download

3 thoughts on “Kritik Pragmatik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s