Mahasiswa Demonstran

Mahasiswa dan Demonstrasi

Oleh Zainurrahman

Para mahasiswa di negeri ini sangat doyan dengan demonstrasi, seolah-olah kegiatan yang satu itu sudah menjadi hobi mereka. Bagi sebagian besar mahasiswa, demonstrasi merupakan kewajiban; bagi sebagian yang lain malah kebutuhan dan hiburan. Tidak perlu kita sebut mahasiswa siapa dan dari universitas yang mana, tetapi jelasnya mahasiswa kita sudah identik dengan demonstrasi. Dalam kesempatan ini, saya akan menyoroti pemahaman mahasiswa terhadap kegiatan demonstrasi itu dari beberapa sudut pandang. Uraian singkat ini diharapkan bisa membuka wawasan kita (khususnya bila anda seorang mahasiswa) mengenai apa dan bagaimana seharusnya demonstrasi itu.

Etimologi dan Terminologi Demonstrasi

Kata Demonstrasi berasal dari kata Demonstration yang artinya “mempertunjukkan.” Penggunaan kata ini dalam bahasa Inggris merujuk pada kegiatan pertunjukan secara publik baik secara perorangan maupun secara kolektif, sebagai suatu bukti atas suatu pernyataan verbal. Demonstrasi adalah sebuah kegiatan “memepertunjukkan bukti” atas janji atau pernyataan yang pernah dilontarkan sebelum kegiatan demonstrasi tersebut. Merujuk pada arti kata dan istilah ini, para demonstran wajib mengetahui “apa yang akan mereka tunjukkan” dan “apa yang mereka buktikan.” Katakanlah mereka menyatakan bahwa ada pejabat yang korupsi, dan mereka menuntut pejabat tersebut untuk bertanggung jawab; maka demonstrasi digunakan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi justru untuk membuktikan bahwa pejabat tersebut adalah koruptor dan untuk menujukkan bahwa yang bersangkutan harus bertanggung jawab. Kata demonstrasi yang diterjemahkan sebagai “unjuk rasa” menurut saya tidak relevan, karena unjuk rasa lebih relevan kepada rasa tidak puas terhadap sesuatu atau rasa senang terhadap sesuatu. Sedangkan kata Demonstrasi bukan hanya sekedar rasa tidak puas, mahasiswa demonstran bukan hanya tidak puas, tetapi memiliki sejumlah alasan logis dan bukti empirik yang ditunjukkan. Kerap kali ditemukan bahwa mahasiswa demonstran tidak berbeda dengan “teroris” maaf saya harus mengatakan demikian. Mereka hanya menunjukkan bahwa mereka ingin seseorang harus bertanggung jawab atas pernyataannya; tetapi sikap dan aksi yang mereka lakukan justru menebar teror bagi “yang tidak terkait.” Yang ingin saya sampaikan adalah para mahasiswa demonstran harus benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan demonstrasi, yang memang tidak perlu anarkis. Kebanyakan mahasiswa yang ikut demonstran hanya ikut-ikutan saja, dan melakukan hal-hal yang mereka suka seperti melempar, memukul, menjarah dan sebagainya. Alhasil, demonstrasi hanya akan menjadi media bagi sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab dan merusak fungsi sebenarnya dari demonstrasi tersebut.

Jati diri mahasiswa

Mahasiswa merupakan social agent dan agent of change. Mahasiswa merupakan punggung masyarakat dan pelopor perubahan. Untuk menjadi agent of change, mahasiswa tidak perlu bersikap revolusioner. Sejujurnya, jati diri mahasiswa bangsa ini sangat didominasi oleh bacaan-bacaan mereka. Para mahasiswa, dalam pencarian jati diri mereka, telah berhasil mengkonsumsi sekian banyak bacaan radikal yang sebut saja Marx, Guevara, hingga ada yang fans sama Lenin dan Hitler. Mereka berasumsi bahwa mereka harus menjadi revolusioner guna mendapatkan jati diri social agent of change. Sayang sekali, bukan itu yang sesungguhnya harus terjadi. Mahasiswa harus bisa membedakan mana revolusioner dan mana pemikir radikal. Alangkah lucunya, ketika diri sendiri saja tidak dapat dirobah, dari kurang baik menjadi lebih baik, kemudian berharap dengan membaca satu dua buku dan menjadi seorang revolusioner. yang dimaksud dengan social agent of change itu adalah mahasiswa yang senantiasa membaur dengan masyarakat, memberikan bimbingan intelektual dan mengaplikasikan pengetahuan demi pencerdasan bangsa. Berhubungan dengan “birokrat kotor” tidak dapat disangkal bahwa mahasiswa harus turun tangan. Bukan hanya mahasiswa, masyarakat juga turun tangan untuk masalah ini. Akan tetapi ingat bahwa banyak oknum yang justru menggunakan demonstrasi sebagai media untuk memuaskan hasrat ugal-ugalan mereka. Jati diri mahasiswa yang sebenarnya adalah yang terpelajar, rapi (bukan tampil urak-urakan), artistik, intelek, berpengalaman, dan bertanggung jawab; jika ini sudah terpenuhi, barulah qualified untuk menjadi social agent of change.

Tridarma Perguruan Tinggi

Para mahasiswa yang suka demonstrasi seringkali berdalih bahwa apa yang mereka lakukan, semata-mata untuk melaksanakan tugas terakhir mahasiswa yang tercatat dalam perguruan tinggi. Ini merupakan alasan yang lucu. Jika kita lihat dengan saksama, maka tridarma perguruan tinggi merupakan suatu kesatuan utuh:

  1. Pendidikan dan Pengajaran
  2. Penelitian
  3. Pengabdian pada Masyarakat

Poin satu menunjukkan bahwa tugas mahasiswa adalah untuk belajar, mendapatkan pendidikan karena sudah mahal-mahal bayar SPP. Setelah itu, hasil dari pendidikan itu digunakan untuk memecahkan peroalan yang dihadapi bersama, yaitu dalam bentuk penelitian (poin kedua). Dan hasil dari penelitian yang dilajukan oleh mahasiswa harus disosialisasikan kepada masyarakat demi perkembangan dan perbaikan lebih jauh (poin ketiga). Melihat kesinambungan antara tiga poin diatas, maka demonstrasi bukanlah bagian dari tridarma perguruan tinggi, apabila demonstrasi dilakukan untuk kepentingan kelompok. Seringkali, ada kepentingan yang melatarbelakangi demonstrasi, dimana mahasiswa sudah ditunggangi menuju kepentingan tersebut.

Mempertanyakan Kebijakan Publik

Lihatlah yang dilaporkan di layar televisi, para mahasiswa merusak komputer-komputer kantor, padahal apa yang mereka rusakkan itu penuh dengan database yang sangat penting untuk pekerjaan orang. Lihatlah beberapa pegawai yang mobil dinas mereka dirusak, dibakar, sementara orangnya ada dalam mobil tersebut dan orang itu sama sekali tidak tahu menahu persoalan. Lihat juga para mahasiswa yang melempar polisi, melempar satpam, hansip, dan akhirnya masuk rumah sakit dan kepalanya dijahit 54 jahitan. Lihat juga kaca-kaca dilempar, kursi dan meja dipatah-patahkan, dan sebagainya. Yang dipertanyakan disini adalah “apa yang ingin ditunjukkan?” Jika memang demonstrasi itu dilakukan untuk mempertanyakan kebijakan publik, maka apakah harus benda-benda mati yang tidak tahu menahu dengan pesoalan itu harus mendapatkan imbasnya? Apakah para mahasiswa yang suka bergadang itu tahu etapa berat pekerjaan mengentri database dikomputer yang mereka rusak itu? Aneh, sangat aneh…

Apa yang harus dilakukan

Demonstrasi itu memang dibutuhkan ketika upaya diplomasi tidak dihiraukan. Akan tetapi harus teliti dan selektif dalam berdemo, tidak harus merusak dan tidak harus memukuli orang. Sebenarnya mudah saja jika ingin suatu kebijakan dirobah oleh pemerintah, atau ingin ada orang yang bertanggungjawab dengan perbuatannya; tinggal tunjukan saja bukti yang ada dan minta yang bersangkutan untuk mengadakan pembuktian terbalik. Kenapa para mahasiswa tidak join dengan polisi? pengadilan? mahkamah agung? DPR? MPR? kan tidak semua diantara mereka itu “kotor.” Masih banyak abang-abang kita yang bisa diharapkan disana, sehingga tidak perlu melakukan apa-apa yang tidak perlu dilakukan. Toh jika kita menuntut yang tidak bertanggungjawab untuk bertanggungjawab, sedangkan kita sendiri tidak bertanggungjawab, kan lucu….

Demonstrasi bukan anarki, demonstran bukan teroris, mahasiswa bukan kuda tunggangan, dan hati-hati provokator yang tidak bertanggung jawab…

2 thoughts on “Mahasiswa Demonstran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s