Semantik dan Pragmatik

Oleh: Zainurrahman, S.S., M.Pd (2013)

Terdapat setidaknya dua cabang disiplin ilmu dalam linguistik yang mempelajari “makna”, yaitu semantik dan pragmatik. Mengapa butuh dua disiplin ilmu untuk mempelajari makna? Karena makna (dalam bahasa) atau makna linguistis itu bermacam-macam jenisnya dan berbeda dalam levelnya. Semantik dan pragmatik, meskipun kedua-duanya mempelajari makna bahasa, namun keduanya memiliki areal analisis makna yang berbeda, meskipun ada areal arsiran dimana kedua-duanya bisa berperan dalam mengungkap makna bahasa.

Pertama-tama, penting untuk membuat semacam batasan akan makna dari pada “makna”. Makna (meaning) memiliki definisi yang berbeda-beda. Dalam semiotik, makna berarti rujukan dari sebuah kata (reference), sesuatu yang berada di luar bahasa (outside the language). Definisi ini berdasar pada pandangan semiotik atau semiologi bahwa bahasa adalah sistem tanda yang bermakna. Sebuah kata dipandang sebagai simbol yang rujukannya adalah realita, apakah itu realita fisik (meja, kursi, gunung, langit, laut, tendang, pukul, makan, dan sebagainya) atau realita imajiner (mimpi, kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, nafsu, pikiran, dan sebagainya). Sedangkan menurut leksikologi, makna adalah padanan kata dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Contoh makna dalam leksikologi atau leksikografi adalah makna-makna kata dalam kamus. Makna itu juga bisa berarti tujuan dari sebuah tuturan (speaker’s intention) atau singkatnya “apa yang ingin disampaikan melalui sebuah ekspresi bahasa”. Makna adalah ide-ide atau pesan aau maksud atau tujuan yang terkodifikasi dalam bahasa, tersimbolisasi melalui bahasa.

Kedua, makna itu bertingkat-tingkat. Sebuah kalimat bisa saja memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung pada tingkatannya. Ada yang disebut literal meaning atau makna literal. Makna literal ini adalah makna kalimat sesuai dengan kata-kata (beserta relasi internal antar kata dalam sebuah kalimat). Setiap orang yang mengerti bahasa Inggris akan mengerti kalimat “It is good!” yang artinya bahwa sesuatu yang dimaksud dengan “it” itu menyandang kata sifat “good” atau sesuai dengan yang diharapkan. Makna ini adalah makna literal atau “makna apa adanya”. Tanpa ada konteks, kita bisa memaknai kalimat tersebut. Makna jenis kedua adalah makna eksplikatur, yaitu makna yang diperjelas. Seseorang yang mengetahui konteks dari kalimat “It is good!” akan bisa memahami apakah yang dimaksud dengan “it” (meja, gelas, kursi, perbuatan, suara, dan sebagainya). Dengan pengetahuan kontekstual, makna eksplikatur jadi lebih jelas dari makna literal, setidaknya kita mengetahui maksud dan tujuan dari penutur kalimat tersebut. Kemudian, makna level ketiga adalah makna implikatur dimana konteks akan memberikan “clue” atau “hint” terhadap maksud penutur yang sebenarnya; yang bisa jadi sangat berbeda dan bahkan bertolak-belakang dengan makna literal. Misalnya, kalimat “It is good!” yang dituturkan itu ternyata sebuah kalimat penyesalan atau kekecewaan atau kemarahan, karena telah terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan.

Makna juga dibedakan dari jenisnya. Makna yang pertama adalah makna penutur (sender’s meaning) yakni ide yang ada di dalam benak penutur. Kemudian makna kalimat (sentence meaning) yang sifatnya literal (literal meaning). Yang terakhir adalah makna tuturan (utterance meaning) yaitu makna ekspresi bahasa penutur yang diinterpretasi melalui konteks dan penggunaanya.

Melihat definisi dan level makna ini, maka kita kemudian sadar bahwa butuh lebih dari satu ilmu makna untuk bisa mempelajari makna. Dalam hal ini, semantik adalah ilmu makna yang mempelajari makna kalimat, makna literal. Sedangkan pragmatik mempelajari makna tuturan yang mana interpretasi tuturan berdasarkan pada konteks dan penggunaan. Mengapa kalimat dan tuturan dibedakan? Karena kalimat itu hanyalah susunan kata yang gramatikal dan memuat sebuah ide, sedangkan tuturan itu membawa konteks dimana kalimat itu diucapkan atau ditulis, didengarkan atau dibaca. Sebuah kalimat bisa saja dipahami tanpa harus meninjau konteks, sedangkan makna tuturan benar-benar kontekstual.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s