Renungan Sumpah Pemuda

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2015, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. Berbagai event dilaksanakan untuk memperingati hari ini, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hari ini saya tiba di kampus dan melihat sekumpulan mahasiswa melakukan orasi tentang kepemudaan, dan saya merenung sejenak. Hasil renungan saya, sungguh miris, ketika saya harus menyimpulkan bahwa mental generasi muda Indonesia semakin terlindas dan seolah-olah balik ke masa-masa kelam, zaman jahiliyah, jika saya bisa mengatakan demikian.

Sebagai seorang pelajar dan pengajar bahasa, saya akan menyoroti item “bahasa” dalam Sumpah Pemuda. Saya berpikir bahwa esensi dari “Bahasa yang satu, Bahasa Indonesia” mengandung arti lebih dari sekedar menguasai dan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dari segi gramatika dan kosakata belaka. Para pemuda dan pemudi zaman ini tidak lagi mengetahui atau setidaknya tidak peduli dengan cara berbahasa yang sopan dan santun. Para pemuda ini harus diajarkan adanya status tertentu, baik secara sosial, maupun secara emosional, yang membedakan cara bertutur.

Memang benar bahwa kajian kesopanan dan kesantunan dalam berbahasa adalah kajian linguistik tingkat menengah yang setidaknya diajarkan di bangku perguruan tinggi, khususnya di program magister, terutama di Indonesia. Akan tetapi, teorisasi kesopanan dan kesantunan berbahasa ini berlandaskan pada kenyataan-kenyataan berbahasa manusia secara alamiah.

Secara alamiah, manusia sebenarnya menyadari adanya status sosial antar penutur dan lawan tutur yang mengatur bagaimana seharusnya berbahasa. Akan tetapi, sikap ketidakpedulian yang terbentuk dari pola dan kebiasaan berbahasa menyebabkan kesadaran ini menjadi kabur dan bahkan hilang sama sekali. Kebiasaan berbahasa setiap orang, ini harus disadari, dibentuk dari skala terkecil, yakni lingkungan keluarga. Sebagai guru bahasa pertama, orang tua harus mampu mendidik moral bahasa anak dan ini tidak terbatas pada melatih anak agar mampu berbicara, tetapi juga mampu berbicara sebagaimana mestinya.

Kemampuan berbicara sesuai kaidah linguistik dan kaidah moralitas merupakan refleksi mental seseorang. Mental seseorang, pada gilirannya, merupakan refleksi dari didikan yang didapatkan di lingkungan keluarganya. Tidak benar bahwa seorang ayah bisa saja baik sedangkan anaknya menjadi jahat. Setiap ayah yang baik, dan benar-benar baik, bukan pura-pura baik, akan mengajarkan kebaikan kepada anaknya, menularkan kebaikan kepada setiap anggota keluarganya. Seorang ayah yang pura-pura baik, hanya akan menjadikan kebaikan sebagai topeng dan pencitraan palsu di dalam kehidupan masyarakat, yang kemudian topengnya itu akan tersingkap di mata keluarganya.

Rumah adalah sekolah, rumah adalah tempat pendidikan yang pertama. Perlu adanya kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mendidik setiap generasi yang ada. Pada waktu yang telah lalu, ketika seorang ayah mengantarkan anaknya ke sekolah, ayah akan berkata pada guru “Saya titipkan anak saya pada anda, jika dia nakal, pukullah…” Kini, ketika ayah mengantarkan anak ke sekolah, ayah berkata pada anak “Jika ada guru yang memukul, beritahukan pada ayah.” Ini adalah kenyataan pahit yang akan membawa pada kenyataan yang lebih pahit lagi. Anak tidak semestinya menjadikan orang tua sebagai tameng dari didikan guru, karena pada hakikatnya tidak ada guru yang menginginkan kegagalan anaknya, termasuk kegagalan dalam menguasai bahasa yang sopan dan santun. Jangan terkejut jika kini hal yang demikian bahkan sudah diatur dalam peraturan yang dikedok dengan perlindungan anak dan sebagainya. Anak dilindungi dari ancaman luar, tetapi tidak dilindungi dari ancaman dari dalam dirinya sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita sadari bersama, bahwa mental generasi muda harus dibina menjadi lebih baik, lebih moralis, terutama bagaimana mereka mampu menggunakan bahasa dengan sopan dan santun. Perlu ada kolaborasi dan kerja keras orang tua dan guru untuk merealisasikan ini, tetapi ini adalah tanggungjawab kita semua. Jika ada orang tua yang bersikap tidak peduli dan bahkan bangga dengan mental bobrok anak mereka, yang adalah generasi muda negeri ini, maka sebaiknya orang tua tersebut pensiun dari menjadi orang tua; anda gagal menjadi orang tua,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s