Sastra: Seni dan Strategi Komunikasi

SASTRA: SENI DAN STRATEGI KOMUNIKASI*

Zainurrahman, S.S., M.Pd., CHt

Pada hari ini, ketika kita mendengar kata sastra, maka sepintas lalu pikiran kita tertuju pada suatu karya yang diciptakan di masa lalu. Sastra seolah-olah mengembalikan atau membawa pikiran kita pada sesuatu di masa silam. Saat kita membaca Hamlet atau Romeo and Juliet karangan Shakespear, atau puisi-puisi karangan Chairil Anwar, kita menyebut bahwa itu adalah karya sastra. Sedangkan jika kita membaca novel-novel yang ada saat ini, atau menyimak puisi putra atau putri kita, yang mereka buat sendiri, kita tidak lantas menyebut itu karya sastra. Tentu saja kita tidak pernah tahu, mungkin saja generasi seratus tahun yang akan datang akan menganggap puisi putra dan putri kita hari ini sebagaimana kita menganggap karya Shakespear dan Chairil Anwar saat ini. Tetapi apakah predikat suatu teks novel atau puisi sebagai karya sastra dipengaruhi oleh ruang dan waktu? Ataukah ditentukan oleh nilai-nilai, struktur-struktur, yang membentuk teks-teks tersebut? Ataukah keduanya? Untuk bisa mendapatkan jawabannya, kita membutuhkan pertanyaan yang lain: apakah sastra itu suatu bentuk seni ataukah juga suatu strategi komunikasi? Jika sastra merupakan suatu strategi komunikasi, maka pada hakikatnya puisi putra-putri anda adalah karya sastra.

Kata sastra berasal dari gabungan kata dalam bahasa sanskerta, sas yang artinya pengajaran atau petunjuk, dan tra yang artinya alat (Teeuw, 1984). Berdasarkan etimologi sastra ini, maka kita bisa saja beranggapan bahwa sastra itu adalah alat atau media untuk memberikan petunjuk atau pengajaran. Kita juga mengetahui bahwa suatu teks disebut karya sastra jika di dalamnya terdapat nilai-nilai estetika dan untuk itulah ada awalan su di dalam kata kesusastraan, bukan kesastraan. Awalan su ini memiliki arti indah. Kita senantiasa memahami kata seni sebagai sesuatu yang memiliki nilai estetika, indah. Akan tetapi jika kita melakukan analisa lintas bahasa pada kata seni ini, demikian juga pada kata sastra, maka kita mungkin akan mendapatkan arah yang “menjauh” dari pengertian kita pada umumnya. Misalnya kata seni di dalam bahasa Inggris adalah art yang juga diartikan sebagai keterampilan. Inilah mengapa kata art bisa ditemukan di dalam frase martial art, art of war, dan sebagainya. Kata art ini di dalam bahasa Yunani disebut ars yang artinya tidak lebih dari sekedar teknik atau strategi. Demikian pula dengan kata sastra, yang di dalam bahasa Inggris literature yang mana berasal dari kata litteratura (dalam bahasa latin) yang merupakan terjemahan dari grammatika di dalam bahasa Yunani. Kedua kata ini memiliki kata dasar littera dan gramma yang artinya huruf atau tulisan. Dari etimologi ini maka kita hampir tidak menemukan adanya tanda-tanda nilai estetika, nilai keindahan di dalamnya. Di dalam etimologi di atas mengandung nilai edukasi, ketrampilan, namun belum terlihat nilai estetika-nya.

Untuk menemukan, memahami, dan menyebutkan adanya nilai estetika dalam suatu karya sastra, maka penting untuk kita garis bawahi bahwa hal itu adalah privasi setiap orang. Estetika adalah suatu pengakuan atas efek mental yang tercipta ketika seseorang menikmati suatu karya, katakanlah karya sastra. Setiap orang akan menikmati keindahan suatu karya sastra dengan kualitas yang berbeda-beda. Dan hal ini pernah menjadi bahan perdebatan yang cukup hangat antara Plato dan Aristotles. Bagi Plato, karya seni (dalam pengertian estetik) memiliki derajat yang tidak lebih tinggi dari karya seni (dalam pengertian keterampilan). Plato menyebutkan bahwa karya seni estetik turut pada hawa nafsu yang seharusnya dikekang, dan nilainya tidak lebih tinggi dari karya seorang tukang yang berkarya sesuai dengan kemutlakan benda-benda yang ada di dalam realitas. Plato beranggapan bahwa seniman meniru realitas, dan secara hierarkis berada pada derajat yang lebih rendah dari realitas itu sendiri; sedangkan tukang menciptakan sesuatu yang nyata di dalam keadaannya. Dalam hal ini, kita bisa memikirkan bahwa karya seorang pandai besi (misalnya pedang) lebih tinggi nilainya daripada puisi seorang sastrawan. Aristotles, yang tidak lain adalah muridnya sendiri, membantah dengan ide bahwa seniman sama sekali tidak meniru kenyataan, melainkan menciptakan kenyataan. Seniman menciptakan dunianya sendiri, yang memiliki muatan estetis yang berpotensi untuk menyebabkan suatu “penyucian batin” yang dia sebut katarsis yang sangat individual. Karya seni, misalnya karya sastra seperti novel atau puisi, merupakan suatu realita, suatu “dunia dalam kata” atau disebut heterokosmos.

Dari cuplikan perdebatan antara Plato dan Aristotles di atas, maka kita bisa melihat bahwa nilai estetika yang terkandung di dalam suatu karya sastra merupakan hasil serapan masing-masing penikmat karya yang bersifat individual. Karya sastra akan memiliki nilai estetika jika bersifat magnetis dan memberikan kepuasan pada penikmatnya. Ini berarti perlu adanya sinkronisasi antara pengarang dan penikmat; dimana pengarang menciptakan karya dan penikmatlah yang akan menjustifikasi apakah itu seni atau bukan, tergantung apakah karya tersebut mampu menyebabkan katarsis pada penikmat atau tidak. Ketika suatu karya melahirkan renungan-renungan batin pada penikmatnya, maka karya tersebut memenuhi salah satu syarat menjadi karya seni estetis, yakni memenuhi syarat Niveau Human (istilah J. Elema tentang strata norma) (Sastrowardoyo, 1983). Hubungan antara pengarang dan penikmat tidak dapat dihilangkan, sebagaimana yang dikatakan oleh Roland Barthes bahwa pembacaan karya sastra yang berhasil adalah dengan cara menghilangkan pengarangnya (yang disebut proses depersonalisasi) agar kita benar-benar dapat memandang karya sastra secara objektif. Teeuw sangat menentang pendapat Roland Barthes ini, karena karya sastra merupakan media komunikasi antara pengarang dan pembaca. Ada maksud-maksud tertentu di dalam karya sastra yang hanya dapat diketahui dan dimaknai secara sempurna hanya jika kita mengetahui latar belakang pengarangnya. Dalam pandangan ini, karya sastra, selain merupakan seni, juga merupakan strategi komunikasi.

Komunikasi senantiasa membutuhkan lebih dari satu elemen. Dalam hal ini, dapat kita sebutkan sender (pengarang), receiver (pembaca atau penikmat), media (karya sastra), dan message (nilai-nilai yang terkandung di dalam karya). Nilai-nilai yang dikomunikasikan bukan hanya sekedar makna cerita, tetapi juga nilai dan pesan moral, yang terkandung di dalam koda, baik itu secara eksplisit maupun secara implisit. Para pengarang memilih “ber-sastra” untuk mengkomunikasikan makna dan nilai. Makna-makna tertera pada ungkapan-ungkapan, dan nilai-nilai yang hanya akan bisa ditemukan melalui proses konkretisasi. Dengan demikian, sastra adalah strategi komunikasi, bukan hanya ekspresi belaka. Nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya merupakan ciri khas namun hanya bisa dijustifikasi oleh penikmat. Ini mungkin yang pernah disampaikan oleh Horasius dalam Ars Poetica:

Aut Prodesse volunt aut delectare poetae, aut simul et lucunda et idonea dicere vitae.

Tujuan penyair ialah untuk memberi nikmat ataupun sekaligus mengatakan hal-hal yang indah dan berfaedah untuk kehidupan.

Sastrawan adalah orang-orang yang terampil menggunakan bahasa untuk menyampaikan pesan. Tanpa pesan-pesan, tanpa nilai-nilai, maka sastrawan hanyalah penghibur belaka. Dari sudut pandang ini, maka karya sastra adalah strategi komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai media. Secara sederhana, sastra adalah seni berbahasa. Jika putra-putri anda mampu menciptakan sebuah puisi yang indah (menurut pengalaman psikologis anda) dan (masih menurut anda) memiliki pesan-pesan dan nilai-nilai untuk anda (sebagai orang tua) renungkan, maka anda boleh menyebut puisi putra-putri anda sebagai karya sastra.

Apakah peran ruang dan waktu dalam pembentukan karya sastra? Anda boleh memikirkan tentang puisi putri anda yang ada hari ini, dan jika bertahan selama seratus tahun, dan bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia, karena kita sedang berbicara tentang hal tersebut.

Felix Vodicka, seorang kritikus sastra, murid dari kritikus sastra Jan Mukarovsky, pernah menyebutkan bahwa makna sebuah karya sastra di-konkretisasi oleh pembaca terus-menerus oleh lingkungan, waktu, dan situasi yang berbeda-beda. Suatu karya sastra akan dimaknai secara kontekstual. Seiring waktu berjalan, pengungkapan makna dari sebuah karya sastra akan bervariasi sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang ada. Sebuah karya sastra akan memiliki nilai yang semakin kuat jika relevansinya tetap bertahan di waktu dan lingkungan yang berbeda-beda. Sehingga nilai karya sastra juga dipengaruhi oleh waktu, tetapi bukan karena menjadi antik, tetapi karena kandungan nilai-nilainya tetap relevan dan bertahan dari waktu ke waktu.

Kemudian, suatu karya sastra senantiasa memiliki latar belakang historisnya (Kutha Ratna, 2003). Melalui karya sastra, kita dapat menjejaki situasi di masa lalu. Pengarang yang merupakan salah satu komponen di masa lalu akan menjadikan karyanya sebagai reflektor kenyataan yang dapat dijejaki di masa kini. Meskipun seringkali kata “karya sastra” identik dengan “fiksi”, namun pada hakikatnya karya sastra merupakan proses penuangan fakta sosial dan psikologis ke dalam fiksi tersebut. Dengan demikian, maka sudah seharusnya semakin tua usia sebuah karya sastra, tidak lantas membuat karya tersebut semakin usang, namun justru sebaliknya.

Selain waktu, ruang atau lingkungan juga mempengaruhi nilai dari suatu karya sastra. Misalnya, jika kita membaca novel Hard Times karangan Charles Dickens saat ini, kita dapat menjejaki atau setidaknya membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang ekonomi lemah di Inggris pada era Revolusi Industri pada pertengahan abad ke 19. Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra membawa ruang dan waktu dimana dan kapan karya tersebut ditulis, dan juga ruang dan waktu kejadian di dalam karya tersebut. Dengan demikian, maka ruang dan waktu, kapan dan dimana suatu karya sastra dinikmati atau di-konkretisasi, juga sangat mempengaruhi hasil pengungkapannya (discovery). Hal ini disebabkan karena perbedaan ruang dan waktu juga mempengaruhi ideologi dan paradigma para penikmat atau kritikus sastra.

Kini kita setidaknya dapat menyimpulkan bahwa sastra, atau karya sastra, merupakan seni dengan media bahasa yang digunakan oleh para sastrawan untuk menyampaikan gagasan, perasaan, atau untuk mengkomunikasikan makna dan pesan-pesan dan oleh karenanya sastra juga merupakan strategi komunikasi. Selain itu, predikat seni estetika atas sebuah karya sastra merupakan hak penikmat yang sifatnya individual. Kemudian, waktu dan ruang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai dan bernilainya suatu karya sastra, bukan karena menjadi antik, namun karena relevansinya dengan konteks lingkungan, waktu, dan situasi, baik yang mengikat pengarang, mengikat karya, dan mengikat penikmat karya tersebut.

Para pembaca yang budiman, puisi putra-putri anda mungkin adalah karya sastra yang sangat bernilai.

Daftar Bacaan

Kutha Ratna, N. (2003). Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar

Sastrowardoyo, S. (1983). Sastra Hindia Belanda dan Kita. Balai Pustaka

Teeuw, A. (2003). Sastera dan Ilmu Sastera. Pustaka Jaya

*Artikel ini sudah diterbitkan di Buletin Harmoni (Majalah Kebahasaan) oleh Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s