SIAPKAH SISWA KITA BELAJAR HARI INI?

Zainurrahman, S.S., M.Pd

Melalui artikel sederhana yang sedang Anda baca saat ini, Saya hendak mengajak kita untuk melihat salah satu elemen penting yang hilang dari berbagai pendekatan, metode, teknik, dan strategi belajar-mengajar yang sudah atau sedang kita terapkan di ruang-ruang kelas kita. Elemen itu adalah kesiapan siswa kita untuk belajar. Ketidakhadiran elemen ini sering kali menjadi penyebab dari munculnya frutrasi para guru, dan juga siswa, atas hasil belajar dan mengajar.

Kita sudah sangat akrab dengan peribahasa “Kegagalan murid adalah cermin dari kegagalan guru.” Dalam konteks tertentu, peribahasa ini kerap kali dijadikan alasan untuk menyalahkan guru atas setiap jenis kegagalan siswa. Tentu saja tidak sedikit guru yang kurang setuju dengan peribahasa ini. Terlepas dari kenyataan tersebut, guru perlu melakukan evaluasi secara berkesinambungan. Tanpa ada maksud untuk menggurui para guru yang sudah pasti lebih terampil dan mengerti hal yang sedang dibahas dalam artikel ini, saya mengajak para guru untuk meninjau kesiapan siswa untuk belajar.

Sering kali kita terjebak dengan kesiapan fisik siswa dan perhatian kita luput dari kesiapan emosional dan kognitif siswa. Pada umumnya kita memberikan izin kepada siswa untuk tidak mengikuti proses belajar di kelas karena siswa tersebut sakit. Dan ini merupakan salah satu indikator bahwa kita hanya menganggap kesiapan fisik sebagai satu-satunya syarat yang harus dipenuhi oleh siswa untuk belajar. Padahal, meskipun kesiapan fisik tidak dapat diabaikan, namun kesiapan emosional dan kesiapan kognitifnya merupakan dua hal yang berada pada nomor urut lebih atas. Secara komprehensif, ketiga hal ini pada dasarnya saling memengaruhi antara satu sama lain. Namun secara hirarkis, skala prioritas antara ketiganya berbeda. Oleh karena kita sudah terlalu lama bergelut dengan kesiapan fisik siswa, saat ini kita perlu melihat kembali kesiapan emosional dan kognitif siswa.

Kesiapan Emosional

Emosi merupakan salah satu variabel yang sangat memengaruhi proses dan hasil belajar. Jika kita mau jujur terhadap diri kita masing-masing, emosi negatif yang mengisi aktivitas kita akan memproduksi hasil yang tidak optimal. Demikian juga dengan para siswa. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Sue Bos pada tahun 2002 bahkan menghasilkan kesimpulan bahwa “proses belajar tidak pernah terjadi dalam kondisi yang dipenuhi dengan emosi negatif”.

Yang dimaksud dengan emosi (menurut Sue Bos) adalah bagaimana emosi siswa terhadap segala elemen yang terlibat di dalam proses belajarnya; jadi bukan hanya emosi yang dibawanya dari konteks lain. Emosi adalah suatu bentuk respon mental terhadap stimulus seperti keadaan, kejadian, situasi, benda, atau orang. Respon mental (atau perasaan) terhadap stimulus ini, menurut Nico Frijda dalam artikelnya yang diterbitkan pada tahun 1988, ditentukan oleh makna-makna yang diberikan oleh setiap orang (siswa) terhadap stimulus-stimulus tersebut. Dengan demikian, ketika makna yang diberikan berubah, maka berubah pula emosi terhadap stimulus tersebut.

Kita sudah memahami bahwa tidak semua siswa memberi makna positif terhadap proses belajar di kelas. Bagi sebagian besar siswa, belajar memuat makna frustrasi, stress, beban tugas, hukuman, atau suatu keadaan yang membosankan. Berapa persentase siswa yang kegirangan saat mengetahui guru mata pelajarannya sedang keluar kota? Banyak! Ini juga terjadi hingga di level perguruan tinggi. Ini juga merupakan indikator paling jelas bagaimana para siswa memberi makna terhadap proses belajar. Pertanyaannya adalah, dari mana makna ini dibentuk? Makna ini dibentuk oleh kenyataan dan kebiasaan yang mereka alami dalam proses belajar. Kita selalu memberi kesan kelas kita seperti sebuah dunia yang bahkan kita sendiri tidak ingin masuki (misalnya penjara). Ruang kelas yang kaku, tertutup, seragam yang digunakan berhari-hari dengan warna yang monoton, ritual kelas yang membentuk rutinitas, adalah hal-hal yang sudah cukup memengaruhi emosi siswa. Coba saja kita bandingkan betapa cerianya siswa-siswi di PAUD yang begitu menikmati proses belajarnya dengan siswa-siswi di Sekolah Menengah. Memang bukan berarti kita akan menyulap kelas di SMP atau SMU layaknya kelas di PAUD, tetapi kita harus mampu menciptakan emosi yang sama. Kesimpulan singkatnya adalah: Jika kita ingin proses belajar siswa optimal, maka minimal setiap siswa di ruang kelas terbebas dari berbagai emosi negatif, terhindar dari stress atau frustasi. Langkah awal yang harus diambil adalah menciptakan kesan bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan; penting namun menyenangkan. Mengenai cara, tentu saja para guru adalah ahlinya. Penjelasan detil mengapa sehingga emosi memengaruhi proses belajar siswa tidak dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, namun fakta penting yang ingin saya bagikan adalah bahwa berada di bawah tekanan mental akan menghambat informasi-informasi yang disampaikan oleh guru untuk dapat diproses pada tataran kognitif siswa. Dengan kata lain, belajar di bawah kondisi emosi negatif akan mendistorsi kemampuan siswa dalam menyerap informasi, berpikir fleksibel, dan tentu saja berdampak pada hasil belajar siswa.

Kesiapan Kognitif

Pada suatu kesempatan saya bertanya kepada para mahasiswa “Apa yang harus dilatih untuk menjadi seorang perenang yang baik?” para mahasiswa menjawa “Otot lengan, otot kaki, pernapasan…” Saya melanjutkan pertanyaan “Mengapa bagian-bagian tersebut yang harus dilatih?” Para mahasiswa menjawab “Ya, karena seorang perenang mengandalkan hal-hal tersebut.” Kemudian saya bertanya, “Anda belajar atau berpikir menggunakan apa?” Mahasiswa menjawab “Otak..” lalu saya pun bertanya, “Kapan Anda melatih otak Anda untuk belajar?” Dan mahasiswa pun tertawa…

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan bagi kita semua, terutama para guru. Otak, atau katakanlah, pikiran siswa, perlu dilatih untuk belajar. Meskipun setiap manusia memiliki pikiran, namun berpikir adalah suatu ketrampilan yang perlu dilatih; dan seorang guru tidak boleh berasumsi bahwa siswanya memiliki keterampilan tersebut sebelum melatih mereka. Ini sama halnya dengan berasumsi bahwa setiap orang yang memiliki tangan, kaki, dan dapat menahan napas pada durasi tertentu sudah pasti dapat berenang dan tidak akan tenggelam. Belajar merupakan suatu medan yang menuntut adanya berbagai kemampuan, dan salah satunya adalah kemampuan fokus.

Kemampuan fokus, atau memberikan perhatian terhadap sesuatu pada takaran yang sesuai, sangat dipengaruhi oleh aspek mental atau emosional sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya. Menurut beberapa pakar, meskipun otak manusia merupakan piranti luar biasa pemberian Tuhan, namun otak didesain untuk fokus hanya pada satu objek pada satu waktu (Sue Bos, 2002). Sementara itu, otak senantiasa menerima berbagai stimulus yang masuk melalui berbagai saluran (indera) baik itu visual, auditori, atau kinestetik (yang kita sebut dengan learning modalities. Seandainya otak atau pikiran tidak berhasil fokus pada suatu objek (misalnya karena dipengaruhi oleh emosi) maka pikiran akan menentukan sendiri objek fokus lainnya yang “menurutnya” merupakan “zona nyaman”.

Secara umum kita meminta para siswa untuk menyimpan handphone saat belajar, karena jika kita tidak melakukannya maka diam-diam siswa akan melihat handphone mereka, berkomunikasi, atau bermain game. Hal ini terjadi karena jenis dan takaran emosi yang diberikan terhadap belajar dan bermain game berbeda; dan jika belajar dianggap suatu kondisi penuh tekanan, maka game dianggapnya sebagai “zona nyaman”.

Jika Anda adalah guru yang selalu menggunakan proyektor, slide presentase, maka yang Anda lakukan sebenarnya berupaya untuk mempertahankan fokus siswa terhadap materi. Teknologi proyektor tersebut sama sekali tidak diciptakan untuk menggantikan papan tulis (kita menyebutnya in-focus, yang sebenarnya adalah salah satu merk proyektor, salah satu alasannya adalah karena kita menggunakannya agar siswa dapat tetap berada dalam kondisi fokus). Ketika menggunakan proyektor, kita melibatkan berbagai unsur seperti gambar dan teks, video, bahkan suara. Hal ini sangat penting karena kita tidak dapat mengidentifikasi apakah siswa kita termasuk kategori siswa visual, auditori, atau kinestetik; sehingga kita melibatkan semua unsur secara integral agar materi dapat tersampaikan dengan baik. Dengan kata lain, mengisi slide dengan teks secara monoton artinya memposisikan proyektor sebagai pengganti papan tulis dan ini jauh dari tujuan perkembangan teknologi proyektor dan komputer.

Ada banyak cara lainnya untuk melatih kemampuan fokus siswa dan Anda dapat memulai proses pencarian informasi yang relevan dari berbagai sumber. Intinya, jika siswa lebih mencurahkan perhatiannya pada hal selain materi yang disampaikan, maka hasil belajar yang optimal tidak dapat diharapkan. Dengan kata lain, siswa hanya siap belajar jika mereka sudah dapat fokus pada apa yang sedang dipelajari.

Kesimpulannya, kesiapan emosional dan kesiapan kognitif siswa merupakan dua kesiapan integral yang tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat diabaikan. Jika siswa sudah berada dalam kondisi emosional positif, jika siswa sudah mampu mencurahkan perhatiannya atau fokus terhadap materi yang akan dipelajari pada hari ini, maka siswa sudah siap untuk belajar. Demikian yang dapat saya bagikan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s