Mengenal Paragraf

Istilah paragraf mungkin hanya disebut di dalam kajian menulis (writing) karena memang hanya di dalam hal teks saja istilah ini digunakan. Istilah ini sulit ditemukan di dalam kajian ujaran (speaking, speech). Kemudian saya cenderung memikirkan bahwa paragraf adalah sesuatu yang tidak dapat didengar namun hanya dapat dilihat atau dibaca. Jarangnya istilah ini digunakan – karena keterbatasan lingkup penggunaan istilah ini – berkonsekuensi minimnya pengetahuan peserta didik atas paragraf. Meskipun mereka dapat menunjuk dengan jelas yang dimaksud dengan paragraf di dalam sebuah teks, namun mereka belum tentu dapat membuat sebuah paragraf dengan benar dan efektif.

Mayoritas peserta didik – baik siswa maupun mahasiswa – memahami paragraf sebagai sekumpulan atau serangkaian kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain. Pemahaman ini dipicu oleh pemahaman mereka bahwa kalimat – sebagai unit yang dianggap lebih kecil dari paragraf – merupakan sekumpulan atau serangkaian kata yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain yang digunakan untuk menyampaikan suatu makna atau maksud. Ini merupakan pemahaman yang perlu diluruskan. Peserta didik perlu diberi gagasan bahwa jika kalimat didefinisikan sedemikian rupa, bagaimana dengan ujaran “Keluar!” yang juga merupakan kalimat (kalimat perintah, imperative sentence) yang hanya terdiri atas satu kata dan bukan serangkaian kata? Seringkali ditemukan bahwa peserta didik juga mendefinisikan kata sebagai sekumpulan huruf yang memiliki makna atau rujukan. Jika memang demikian, bagaimana dengan kata “sebuah” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “a” (disebut article namun ini bukan kepanjangannya) yang hanya terdiri dari satu huruf saja? Demikian juga dengan paragraf yang bisa terdiri dari satu kalimat saja.

donatepaypal

 

Sudah saatnya peserta didik diperkenalkan dengan unit ujaran atau unit teks dengan pemahaman yang meskipun lebih menantang namun valid. Kata, kalimat, dan paragraf harus diperkenalkan sebagai unit teks dan bukan lagi sebagai serangkaian elemen-elemen kecil yang membentuk sebuah struktur yang lebih besar.

Kata harus diperkenalkan sebagai tanda (sign) yang memiliki bentuk akustik (bunyi) dan bentuk visual (huruf) – keduanya disebut signifier – dan juga memiliki makna atau rujukan (signified); penjelasan ini didasarkan pada uraian semiotika Ferdinand de Saussure. Kalimat harus diperkenalkan sebagai unit fungsional bahasa yang terdiri atas beberapa fungsi tatabahasa (grammatical functions) seperti subjek dan predikat. Paragraf harus diperkenalkan sebagai divisi gagasan.

Kita baru saja melewati empat paragraf (sebelum paragraf ini). Kita bisa melihat perbedaan ukuran paragraf; ada yang pendek, ada yang sedang, dan ada yang panjang. Jumlah kata dan kalimat yang terdapat pada masing-masing paragraf berbeda-beda. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Bolehkah kita menggabungkan semuanya menjadi satu paragraf saja? Bolehkah kita membagi paragraf yang panjang hanya dengan meletakkan kursor pada akhir salah satu kalimat dan menekan enter saja? Adakah konsekuensi penting yang disebabkan oleh penggabungan atau pemisahan tersebut yang harus dipikirkan? Semua pertanyaan-pertanyaan ini membuat pemahaman tentang paragraf menjadi penting dan untuk itulah materi ini disampaikan.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, sesungguhnya paragraf merupakan divisi gagasan atau divisi ide. Gagasan atau ide merupakan kandungan atau konten di dalam kognisi kita yang meskipun berstruktur namun abstrak. Di dalam kesadaran kita, gagasan tidak terpilah-pilah ke dalam divisi-divisi. Ketika gagasan berada di dalam pikiran, gagasan itu utuh sebagai suatu kesatuan abstrak. Divisi-divisi gagasan dibutuhkan ketika gagasan tersebut ditransfer pada orang lain melalui suatu peristiwa komunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Saat gagasan itu sudah berada di dalam pikiran penerima (pendengar atau pembaca), gagasan itu – terlepas dari sukses tidaknya si penerima menerima gagasan tersebut dengan benar – kembali bersifat utuh. Ini seperti halnya seorang pelukis memandang objek yang dilukisnya; objek itu utuh. Saat pelukis ini mulai melukis, objek itu dilukis secara bertahap. Saat lukisan itu dilihat oleh orang lain (setelah lukisan itu sempurna), yang dilihat pun utuh. Artinya, pelukis tersebut membuat divisi-divisi objek di atas kanvas hingga objek itu terlihat utuh. Di dalam kegiatan menulis, paragraf merupakan divisi-divisi di atas kertas yang menampilkan gagasan-gagasan.

Adanya spasi pemisah antara satu paragraf dengan paragraf lainnya tidak hanya berfungsi untuk membuat paragraf-paragraf tersebut terlihat rapih. Paragraf-paragraf tersebut terpisah (seperti yang sedang Anda lihat pada laman ini) karena mengandung gagasan-gagasan yang berbeda namun saling berkaitan dan saling menjelaskan. Lebih lanjut lagi, paragraf-paragraf tersebut bukan hanya sekedar terpisah namun tersusun dan membentuk sebuah struktur top-down (atas ke bawah); susunan paragraf merupakan susunan gagasan yang tidak bersifat acak dan itulah sebabnya kita tidak membaca paragraf dari bawah ke atas.

Isi dari sebuah paragraf adalah gagasan; bahkan paragraf itu sendiri merupakan gagasan. Gagasan dapat bersifat simpel atau kompleks. Semakin kompleks sebuah gagasan, maka semakin besar ukuran paragraf itu. Namun sebesar apapun ukuran sebuah paragraf, paragraf tersebut hanya boleh digunakan untuk menyampaikan satu gagasan pokok (main idea). Jika seseorang hendak berpindah ke gagasan pokok yang baru, maka dia harus membuat paragraf yang baru. Ini merupakan peraturan dalam ilmu menulis (bahwa hanya ada satu ide pokok dalam satu paragraf) terkecuali dalam sebuah abstrak dimana ide-ide pokok disampaikan dalam satu paragraf secara utuh sehingga menyerupai gagasan di dalam pikiran yang utuh dan abstrak.

Sebuah paragraf terdiri atas satu elemen wajib dan dua elemen opsional. Elemen wajib dari sebuah paragraf adalah kalimat topikal (topical sentence) yang berfungsi untuk menyampaikan ide pokok (main idea). Elemen opsional pertama adalah detil-detil pendukung (supporting details) yang merupakan kalimat-kalimat yang berfungsi untuk menjabarkan atau menjelaskan gagasan yang tersampaikan melalui kalimat topikal. Jika kita menemukan sebuah paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat, maka kalimat tersebut adalah kalimat topikal. Ide pokok yang ingin disampaikan melalui paragraf itu adalah ide sederhana sehingga tidak dibutuhkan kalimat lain untuk mendukungnya. Sementara itu, yang membuat sebuah paragraf menjadi panjang adalah detil pendukung atau kalimat-kalimat pendukung. Semakin kompleks ide pokok yang disampaikan melalui sebuah paragraf, maka semakin banyak kalimat pendukung atau supporting details yang dibutuhkan. Jika seorang penulis sadar bahwa paragraf yang dibuatnya sangat panjang – karena ide yang disampaikan sangat kompleks – maka dibutuhkan elemen opsional kedua yakni kalimat penyimpul (concluding sentence) yang pada dasarnya merupakan pernyataan kembali dari kalimat topikal dengan struktur yang berbeda. Kalimat penyimpul ini dibutuhkan agar pembaca mampu mengingat kembali ide pokok yang sedang disampaikan. Intinya, sebuah paragraf pada dasarnya bertujuan untuk menyampaikan dan menjelaskan ide pokok yang dinyatakan di dalam kalimat topikal.

Paragraf-paragraf tersusun menyerupai alur gagasan yang diikuti oleh pembaca. Paragraf-paragraf yang memiliki ide pokok yang masih bersinggungan harus terhubung dengan menggunakan sinyal transisi (transition signal) seperti penggunaan frasa oleh karena itu, akan tetapi, berdasarkan pada pernyataan di atas, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, dan sebagainya. Frasa-frasa ini disebut sebagai sinyal karena fungsinya adalah untuk memberikan tanda kepada pembaca bahwa mereka akan beralih dari satu gagasan ke gagasan lainnya; tanpa sinyal ini maka akan terdapat gap antara gagasan-gagasan dan mengakibatkan kegagalan pembaca untuk memahami gagasan-gagasan tersebut.

Sampai pada titik ini, kita telah memahami bahwa paragraf merupakan divisi gagasan. Artinya, gagasan-gagasan di dalam sebuah teks dipecah-pecah dan disampaikan satu per satu. Jika gagasan-gagasan ini telah tersampaikan secara sempurna, maka terbentuklah gagasan utama yang ingin disampaikan melalui paragraf-paragraf itu. Saya menyebutnya gagasan utama (primary idea) untuk membedakannya dari gagasan pokok (main idea). Gagasan utama adalah gagasan yang tertera di dalam judul atau sub-judul. Misalnya, dengan membaca seluruh paragraf yang ada di dalam artikel ini, Anda diharapkan dapat memahami apa sesungguhnya paragraf itu; dan ini adalah gagasan yang dinyatakan di dalam judul “Mengenal Paragraf”.

Gagasan utama tentang paragraf adalah gagasan yang utuh namun untuk menyampaikannya kita harus membagi gagasan tersebut ke dalam divisi-divisi dan divisi itulah yang kita sebut paragraf. Kemudian, setiap divisi memiliki gagasan pokoknya masing-masing. Dengan kata lain, gagasan-gagasan pokok disampaikan dan dijelaskan melalui detil-detil pendukung agar gagasan utama yang ternyatakan di dalam judul atau sub-judul dapat disampaikan. Sayangnya, dewasa ini “pembuatan” judul artikel atau buku cenderung hanya mengindahkan nilai pasar dibandingkan dengan kesesuaian antara gagasan utama dan gagasan pokok. Kebanyakan para penulis buku membuat judulnya sedemikian rupa agar menarik perhatian, menghadirkan rasa penasaran, yang tujuannya agar bukunya laku. Akhirnya tidak sedikit pembaca yang kecewa karena membeli atau membaca isi buku tidak sesuai dengan judulnya.

Melalui pembahasan dalam artikel yang singkat ini, kita pun dapat memahami bahwa berkembang atau tidaknya sebuah paragraf atau sebuah teks tidak hanya ditentukan oleh kreativitas kita dalam mengolah bahasa. Kedalaman dan keluasan gagasan yang kita sampaikan merupakan kunci penentu perkembangan paragraf atau perkembangan tulisan kita secara keseluruhan. Sederhananya, paragraf itu sendiri merupakan wujud dari gagasan-gagasan. Paragraf tidak lagi dapat diajarkan sebagai unit bahasa tulisan tetapi harus diajarkan sebagai divisi-divisi dari gagasan atau ide atau pemikiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s