Dimanakah Bahasa Berada?

Suatu hari, Descartes menulis surat kepada salah satu rekannya. Di dalam surat itu dia berkata, “Simpanse tidak dapat berbicara bukan karena kekurangan organ ucap di mulutnya tetapi karena kekurangan organ pada otaknya”. Surat ini dikutip oleh seorang linguis (ahli bahasa), Noam Chomsky, di dalam bukunya yang berjudul Cartesian Linguistics. Hal tersebut lah yang akan dibahas di dalam artikel ini.

Bahasa merupakan salah satu anugrah yang harus disyukuri oleh kita karena tanpa bahasa aktivitas komunikasi kita akan terhambat dan betapa banyak hal yang tidak dapat kita komunikasikan. Meskipun kita memiliki cara lain untuk berkomunikasi, bahasa merupakan sistem komunikasi tercanggih yang pernah ada. Isyarat-isyarat non-verbal (tanpa kata-kata) tidak dapat menjadi sistem komunikasi primer karena isyarat tidak dapat digunakan untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan abstrak; hanya bahasa verbal yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan hal tersebut. Bahasa juga tidak dapat dikira sebagai alat untuk berkomunikasi saja, karena kita tahu persis bahwa tanpa bahasa pun kita tidak dapat berpikir. Dengan kata lain, bahasa merupakan syarat berpikir sebagaimana yang dinyatakan oleh Edward Sapir dan Benjamin Whorf bahwa manusia hanya bisa memikirkan apa yang bisa diungkapkannya melalui bahasa. Hal ini secara tidak langsung mengindikasikan fakta bahwa pola pikir manusia sangat dipengaruhi oleh pola bahasa yang tercetak di dalam otaknya; bahkan Sapir dan Whorf menyatakan bahwa bahasa merupakan cetakan bagi pikiran. Inilah sebabnya dengan mengubah kata-kata yang biasanya kita gunakan sehar-hari dapat mengubah pikiran kita dan di sisi lain cara seseorang menggunakan bahasa dapat merefleksikan kondisi pikirannya.

Bahasa, atau kemampuan berbahasa, tidak terletak pada organ-organ ucap tetapi terletak di dalam otak. Saudara-saudara kita yang karena satu dan lain hal harus menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan kita, tidak dikarenakan oleh gangguan organ ucap tetapi oleh gangguan pada otaknya. Namun otak bukanlah area sempit. Otak merupakan salah satu organ sentral dalam tubuh kita dan bahasa hanyalah satu bagian kecil yang menempati otak. Lalu dimanakah bahasa berada (di dalam otak kita)?

Telah diketahui secara umum bahwa otak kita terbagi atas beberapa bagian namun ada dua bagian yang paling sering dibahas yakni bagian kiri dan bagian kanan. Bagian-bagian ini disebut dengan istilah hemisfer. Kebanyakan orang menyebutnya otak kiri dan otak kanan seolah-olah manusia punya lebih dari satu otak. Cara tepat untuk menyebutnya adalah dengan menggunakan istilah hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Kedua hemisfer ini dijembatani oleh sebuah organ otak yang disebut corpus callosum. Dahulu kala, para ahli saraf (neurolog) mengira bahwa dua hemisfer ini seperti dua buah baterai yang menjalani fungsi yang sama. Pada suatu waktu, para ahli saraf harus membedah otak seorang pasien yang mengalami cedera pada corpus callosum. Oleh karena corpus callosum pasien ini mengalami cedera, maka interaksi antara hemisfer kiri dan kanan otak pasien tersebut terganggu. Kedua hemisfer ini akhirnya bekerja secara mandiri dan disinilah para ahli saraf akhirnya mengetahui bahwa tiap-tiap hemisfer menjalankan peran yang berbeda-beda. Penelitian demi penelitian terus berlanjut untuk mengetahui hal ini secara lebih dalam. Mereka menyebut penelitian semacam ini dengan istilah split-brain research.

Setelah mereka (para peneliti) mengetahui bahwa hemisfer kiri dan hemisfer kanan menjalankan fungsi yang berbeda (meskipun bekerja secara interaktif melalui corpus callosum), mereka kemudian meneliti setiap hemisfer. Para pasien yang mengalami cedera pada salah satu hemisfer (kiri atau kanan) kemudian dipelajari oleh para peneliti. Pasien-pasien yang mengalami cedera pada hemisfer kanan cenderung mengalami gangguan emosional sementara itu pasien-pasien yang mengalami cedera pada hemisfer kiri cenderung mengalami gangguan kognitif. Dari penelitian-penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa hemisfer kanan otak bertanggungjawab atas beberapa kemampuan seperti pengendalian emosi, imajinasi, kreatifitas, dan sebagainya. Sementara itu, hemisfer kiri otak bertanggungjawab atas kemampuan berfikir logis dan matematis, bahasa, dan sebagainya. Bahasa, akhirnya diketahui berada di hemisfer kiri otak.

Kemampuan kita untuk berbahasa pun dibagi menjadi dua kelas besar, yakni kemampuan untuk memproduksi (bicara dan menulis) dan kemampuan untuk memahami atau reseptif (menyimak dan membaca). Kedua kemampuan ini, meskipun sama-sama berada di hemisfer kiri, ternyata terletak pada areal yang berbeda. Dua orang peneliti yang bernama Broca dan Wernicke menemukan bahwa kemampuan untuk memproduksi bahasa terletak pada areal frontal atau hemisfer kiri depan (disebut area Broca) sedangkan kemampuan untuk meresepsi (menyimak dan memahami) bahasa terletak pada areal temporal atau hemisfer kiri tengah (disebut area Wernicke).

Apabila seseorang mengalami gangguan pada area Broca, maka orang tersebut mengalami gangguan bicara meskipun dia mampu memahami ucapan orang lain dengan baik. Sementara itu, apabila gangguannya terletak pada area Wernicke, maka meskipun tidak terlihat adanya gangguan bicara pada orang itu, dia mengalami kesulitan untuk memahami ucapan orang lain. Gangguan-gangguan semacam ini merupakan “penyakit” yang menyerang potensi berbahasa seseorang dan ini dikenal dengan istilah aphasia. Gangguan-gangguan yang disebut di atas kemudian dispesifikkan menjadi Afasia Broca dan Afasia Wernicke; tergantung pada kondisi gangguannya dan areal otak yang terserang. Orang yang mengalami gangguan kompleks (tidak dapat bicara dan tidak dapat memahami pembicaraan) telah mengalami gangguan pada kedua areal ini sekaligus. Hal ini cukup menjelaskan betapa pentingnya kita menjaga otak kita agar tidak mengalami cedera.

Pembahasan di atas tidak mengisyaratkan bahwa hanya dua bagian itu saja yang bekerja ketika kita menggunakan bahasa (berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan). Kenyataannya, peneliti lain seperti Friederici menemukan bahwa hampir semua bagian otak aktif saat seseorang menggunakan bahasa (berkomunikasi). Misalnya, saat berbicara, area Broca bukanlah satu-satunya area otak yang aktif. Oleh karena seseorang tidak mungkin bicara tanpa mengeluarkan suara, maka bagian otak lain yang bertanggungjawab atas gerakan refleks organ ujar, yakni cerebellum atau otak belakang, bekerja dengan sangat aktif. Selain itu, dalam berbicara, intonasi atau ritme pun hadir secara bersamaan. Intonasi atau ritme dalam berbahasa disebut dengan prosody dan ini terletak di hemisfer kanan karena berhubungan dengan emosi; tentunya Anda bisa membedakan kata-kata yang diucapkan oleh orang yang sedang marah atau sedang sedih berdasarkan intonasi atau ritmenya. Demikian pula saat kita sedang menjadi seorang pendengar. Oleh karena kita tidak mungkin bisa memahami ucapan seseorang tanpa mendengarkannya, maka areal korteks auditori atau bagian otak yang memroses bunyi (di areal telinga) akan terlibat sangat aktif. Lebih jauh lagi, proses berfikir analitik yang terletak pada bagian korteks serebral pun akan aktif. Saat kita membaca, bagian lain yang aktif adalah area korteks visual (bagian yang bertanggungjawab atas penglihatan mata) yang justru berada di bagian belakang kepala kita. Intinya, bahasa memang ada di dua areal kecil di hemisfer kiri otak. Namun pemrosesan bahasa itu sendiri melibatkan hampir keseluruhan bagian otak.

Berkenaan dengan otak dan bahasa, Chomsky juga menyatakan bahwa potensi bahasa merupakan potensi bawaan lahir. Artinya, setiap orang (asumsinya orang normal) dilahirkan untuk berbahasa. Tidak semua orang dapat mengendarai sepeda motor, tidak semua orang dapat bernyanyi, tidak semua orang dapat berenang, setidaknya tidak semua orang dapat melakukan hal-hal tersebut dengan baik. Namun setiap orang akhirnya dapat berbahasa karena potensi bahasa merupakan potensi bawaan lahir atau bersifat internal (innate). Pernah ada seorang ahli yang menyatakan bahwa kita bisa berbahasa meskipun kita tidak mempelajarinya (dari seorang guru). Ahli tersebut adalah Stephen Krashen. Pendapatnya ini ditolak oleh banyak ahli karena pendapatnya hanya bisa diterapkan pada bahasa pertama (bahasa ibu) namun tidak pada bahasa kedua dan bahasa asing. Namun akhirnya ini Chomsky memperkuat pendapat Krashen dengan menyatakan bahwa bahasa itu adalah salah satu kealamiahan manusia (the nature of human being).

Bagi Chomsky, setiap orang dilahirkan dengan membawa sebuah instrumen untuk memeroleh bahasa. Instrumen ini disebutnya sebagai Language Acquisition Device (LAD). Ada perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenai apakah LAD ini merupakan organ otak yang bersifat fisik ataukah sebuah modul pikiran yang bersifat mental. Sebagian ahli berpendapat bahwa LAD merupakan potensi kognitif, sebuah modul pikiran yang tercipta atas interaksi kompleks antara bagian-bagian otak yang berbeda. Sementara itu, menurut ahli lain, LAD merupakan instrumen fisik yang terletak di areal Broca. Jika bahasa merupakan potensi bawaan lahir, maka mengapa manusia purba tidak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi?

donate2

Otto Jespersen menjelaskan bahwa manusia purba berkomunikasi dengan menggunakan suara. Mereka meniru suara-suara alam untuk mengkomunikasikan maksud mereka (disebut dengan anomatopea). Mereka juga menggunakan suara untuk mengekspresikan emosi mereka. Plato, dalam karyanya yang berjudul Cratylus, menggambarkan (dalam bentuk kisah) bahwa orang-orang kemudian mengangkat seorang legislator atau “arsitek bahasa” untuk memutuskan cara untuk menyebut sesuatu. Hal ini dilakukan oleh manusia zaman dahulu karena setiap orang punya cara yang berbeda untuk menyebutkan suatu benda yang sama. Tidak diketahui secara pasti kapan hal ini terjadi, namun yang pasti adalah ada suatu masa ketika manusia zaman dahulu sadar bahwa mereka memiliki potensi bahasa. John Searle, seorang linguis, menyebut masa ini sebagai masa evolusi kesadaran manusia. Pada masa inilah bahasa menjadi sebuah konvensi sosial yang bersifat arbitrer sebagaimana yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure. Evolusi kesadaran ini tidak terlepas dari evolusi otak manusia. Sebagai organ fisik, otak akan semakin berkembang jika otak semakin digunakan. Dengan berkembangnya otak, baik secara kapasitas maupun kualitas, maka berkembang pula kesadaran manusia; termasuk kesadaran memiliki dan menggunakan potensi bahasanya. Intinya adalah potensi bahasa adalah fitrah manusia itu sendiri dan bertempat di dalam hemisfer kiri otak manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s